PENGUKURAN
TURBIDITY (KEKERUHAN)
(Praktikum Rekayasa Pengolahan Limbah)

IWAN NOVIANTO
1114071024
JURUSAN
TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2014
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia sebagai negara sedang berkembang memiliki beragam
ukuran dan jenis industri, baik dalam bentuk industri rumah tangga maupun
industri ukuran besar. Aturan yang berhubungan dengan berbagai jenis limbah
yang dihasilkan berbagai jenis industri tersebut pada umumnya sudah tersedia.
Seperti Undang-Undang No.32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-undang No.32 Tahun 2009, yang mengatur pengelolaan lingkungan hidup
menjadi salah satu materi kewenangan yang didesentralisasikan dari Pemerintah
Pusat kepada Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota). Aturan ini dilahirkan
pada dasarnya dengan tujuan agar limbah sebagai hasil sampingan berbagai jenis
industri tersebut tidak merusak lingkungan pada saat dibuang ke dalam perairan.
Turbidity atau kekeruhan air disebabkan
oleh impurity atau adanya benda-benda asing di dalam air. Kandungan
senyawa-senyawa kimia yang mencemari
lingkungan air dapat menyebabkan perubahan warna dan tampak keruh. Kandungan
zat padat yang terdapat pada air baik
yang terlarut maupun yang tersuspensi, juga menimbulkan kekeruhan air. Dampak
dari kekeruhan adalah dapat terganggunya kehidupan di dalam air karena karena
kekeruhan mengganggu penetrasi sinar matahari. Adapun alat yang digunakan untuk
mengukur timhkat kekeruhan suatu bahan adalah turbidity meter. Dimana alat ini
bekerja untuk mengukur tingkat kekeruhan, sebelum melakukan pengukuran harus
dilakukan kalibrasi terlebih dahulu.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun
tujuan dilakukannya praktikum kali ini adalah untuk mengetahui tingkat kekeruhan
dari air dan air limbah.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
Industri
adalah segala bentuk bahan, yang tidak atau belum punya arti ekonomis,
yang
dihasilkan suatu proses teknologi yang dipakai, atau karena kecerobohan
operator
dan atau hal lain yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya harus
terbuang
keluar dari berbagai unit proses yang ada. Sedangkan limbah cair
industri
adalah semua limbah industri yang berbentuk cairan atau berada dalam
fase
cair.
Pengolahan
limbah cair industri pada hakekatnya adalah suatu perlakuan
tertentu
yang harus diberikan pada limbah cair sebelum limbah tersebut terbuang
ke
lingkungan penerima limbah. Untuk dapat menentukan secara tepat perlakuan
yang
sebaiknya diberikan pada limbah cair, terlebih dahulu diketahui secara tepat
karakteristik
dari limbah melalui berbagai penetapan berbagai parameter untuk
mengetahui
macam dan jenis komponen pencemar serta sifat-sifatnya.
Pengolahan
limbah cair meliputi pengolahan fisika, pengolahan kimia dan
pengolahan
biologis. Pengolahan fisika dilakukan terhadap air limbah dengan
kandungan
bahan limbah yang dapat dipisahkan secara mekanis langsung.
Pengolahan
secara kimia merupakan proses dimana perubahan, penguraian atau
pemisahan
bahan yang tidak diinginkan berlangsung karena mekanisme reaksi
kimia.
Proses
pengolahan limbah cair secara biologis dilakukan dengan memanfaatkan aktivitas
mikroorganisme (bakteri, ganggang, protozoa, dll) untuk menguraikan atau
merombak senyawa-senyawa organik dalam air menjadi zat-zat yang lebih sederhana
(stabil). Dalam sistem biologi, mikroorganisme menggunakan limbah untuk mensintesis
bahan sellular baru dan menyediakan energi untuk sintesis.
Mikroorganisme
juga dapat menggunakan suplay makanan yang sebelumnya sudah terakumulasi. Secara
internal atau endogenes untuk respirasi dan melakukannya terutama bila tidak
ada sumber makanan dari luar atau eksogenes.
Sintesis
dan respirasi endogenes berlangsung secara simultan dalam sistem
biologis,
dengan sintesis yang berlangsung lebih banyak bila terdapat makanan
eksogenes
yang berlebihan, dan respirasi endogenes akan mendominasi bila
suplay
makanan eksogenes sedikit atau tidak ada.
Secara
umum reaksi yang terjadi dapat digambarkan sebagai berikut ini. Limbah yang
dapat dimetabolisme dan mengandung energi + mikroorganisme produk akhir lebih banyak mikroorganisme. Bila pertumbuhan
terhenti, mikroorganisme mati dan lisis melepaskan nutrien dari protoplasmanya
untuk digunakan oleh sel-sel yang masih hidup dalam suatu proses respirasi
selular autoksidatif atau endogenes.
Mikroorganisme produk akhir lebih sedikit mikroorganisme dengan
adanya bahan limbah (makanan), metabolisme mikroba akan berlangsung memproduksi
sel-sel baru dan energi, dan padatan mikroba akan meningkat. Bila tidak ada makanan,
respirasi endogenes akan berlangsung lebih banyak dan akan terjadi pengurangan
padatan mikroba (Betty Sri,LJ & Winiati Puji,R.1993).
Limbah
cair tahu sebelum dibuang ke lingkungan perlu diolah terlebih dahulu untuk
mengurangi konsentrasi kandungan pencemar yang menyertai limbah tersebut.
Teknik pengolahan limbah cair dibagi menjadi tiga metode yaitu pengolahan
secara fisika, kimia dan biologi. Salah satu proses dalam pengolahan limbah
cair secara kimia adalah koagulasi. Koagulasi merupakan proses destabilisasi
koloid dalam limbah cair dengan menambahkan bahan kimia (koagulan). Koagulan
ditambahkan untuk menetralkan keadaan atau mengurangi partikel kecil yang
tercampur dalam limbah cair melalui pengendapan (Sugiharto, 1987).
Kekeruhan
mengacu pada konsentrasi ketidaklarutan, keneradaan partikel dalam cairan yang
diukur dalam Nephelometric Turbidity Units(NTU). Air dengan penampilan keruh
atau tidak tembus pandang akan memiliki kekeruhan tinggi, sementara air yang
jernih atau tembus pandang akan memiliki kekeruhan rendah. Nilai kekeruhan yang
tinggi disebabkan oleh partikel seperti lumpur, tanah liat, mikroorganisme, dan
material organik. Berdasarkan definisi, kekeruhan bukan merupakan ukuran
langsung dari partikel-partikel malainkan suatu ukuran bagaimana partikel
menghamburkan cahaya (Anonim,2014).
III.
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1
Alat dan Bahan
Adapun
alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah gelas ukur dan Turbidity
meter. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air sungai, aquades, air sumur,
dan air limbah tahu.
3.2
Prosedur Pelaksanaan
Adapun
langkah- langkah yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah sebagai
berikut:
·
Siapkan sampel air
suling, aquades, dan air limbah tahu masing- masing pada gelas ukur yang
berbeda.
·
Siapkan alat ukur turbidity
meter, dinyalakan.
·
Kalibrasi dahulu Turbidity
meternya
·
Masukan sensor
Turbidity meter ke dalam sampel.
·
Kemudian masing-
masing sampel di ukur dengan menggunakan Turbidity meter dan sensor yang
tersedia.
·
Kemudian diamati
masing- masing tingkat kekeruhan sampel dan kemudian dicatat nilainya.
IV.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
Adapun
hasil pengamatan yang kita dapatkan dari praktikum kali ini adalah:
NNO
|
Sampel
|
Uji I (NTU)
|
Uji I I(NTU)
|
Uji II I(NTU)
|
11
|
Air limbah tahu
|
259
|
269
|
254
|
22
|
Air aquades
|
0,49
|
0,45
|
0,61
|
33
|
Air sungai
|
1,93
|
1,86
|
1,93
|
44
|
Air kran
|
0,22
|
0,21
|
0,15
|
55
|
Air limbah tahu olahan
|
393
|
398
|
367
|
4.2
Pembahasan
Kekeruhan
mengacu pada konsentrasi ketidaklarutan, keneradaan partikel dalam cairan yang
diukur dalam Nephelometric Turbidity Units(NTU). Air dengan penampilan keruh
atau tidak tembus pandang akan memiliki kekeruhan tinggi, sementara air yang
jernih atau tembus pandang akan memiliki kekeruhan rendah. Nilai kekeruhan yang
tinggi disebabkan oleh partikel seperti lumpur, tanah liat, mikroorganisme, dan
material organik. Berdasarkan definisi, kekeruhan bukan merupakan ukuran
langsung dari partikel-partikel malainkan suatu ukuran bagaimana partikel
menghamburkan cahaya.
Kekeruhan
adalah pengukuran analisis yang sangat kompleks yang dapat dapat dipengaruhi
oleh banyak faktor. Beberapa sudah ada dalam desain instrumen seperti sudut
pembacaan, sumber sinar, panjang gelombang dan sensitifitas warna dan fotosel. Dari
data yang diperoleh dapat kita lihat suhu masing- masing sampel air limbah tahu
tingkat kekeruhan uji 1 259 NTU, uji 2 269 NTU, uji 3 254 NTU, air aquades tingkat
kekeruhan uji 1 0,49 NTU, uji 2 0,45 NTU, uji 3 0,61 NTU, air sungai
tingkat kekeruhan uji 1 1,93 NTU, uji 2 1,86 NTU, uji 3 1,93 NTU , air kran tingkat kekeruhan uji 1 0,22 NTU,
uji 2 0,21 NTU, uji 3 0,15 NTU, air limbah tahu olahan tingkat kekeruhan
uji 1 393 NTU, uji 2 368 NTU, uji 3 367 NTU. Berdasarkan data tingkat kekeruhan
yang kita dapatkan juga dapat kita lihat bahwa yang paling pekat adalah air limbah tahu olahan dengan tingkat
kekeruhan rata-rata 376 NTU, kemudian diikuti oleh air limbah tahu dengan tingkat
kekeruhan rata-rata 260 NTU, air sungai dengan tingkat kekeruhan rata-rata 1,90 NTU, air aquades dengan tingkat
kekeruhan rata-rata 0,516 NTU , dan yang paling kecil adalah air kran dengan
tingkat kekeruhan rata-rata 0,19 NTU. Kekeruhan ini menunjukan bahwa sampel
yang tingkat kecemarannya paling tinggi adalah air limbah tahu olahan. Pada
kegiatan industri tahu, limbah cair pada umumnya langsung disalurkan ke badan
air sehingga mencemari perairan. Perairan yang tercemar memiliki kandungan BOD
(4140 mg/l) dan COD (6591,90 mg/l) (sumber referensi penelitian awal), berbau
busuk dan berwarna kehitaman, sehingga tidak dapat dimanfaatkan lagi.
V.
KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan yang bisa kita dapatkan dari praktikum kali ini adalah:
·
Berdasarkan pengujian tingakat
kekeruhan yang telah dilakukan terhadapa lima sampel yaitu air sungai, air aquades, air kran, air
limbah tahu olahan dan air limbah tahu, yang memiliki kekeruhan tetinggi adalah
air limbah tahu olahan, yaitu 376 NTU.
·
Air kran adalah air
yang memiliki tingkat kekeruhan paling rendah yaitu 0,19 NTU.
·
Jika limbah tahu langsung
dibuang tanpa diolah maka akan merusak lingkungan, seperti yang kita ketahui
limbah memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.wikipedia.org. 08 Oktober 2014
Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. UI
Press. Jakarta.
Betty
Sri,LJ & Winiati Puji,R.1993. Sistem
Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri. Institut Teknologi Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar